Minggu, 30 Juni 2013

* my way *

sudah terbiasa kerja,jd agak suntuk jg klo kerjaan cm momong anak.tp anak g bisa ditinggal kerja,pengen pny kegiatan yg menghasilkan tp tetep bisa momong anak,suatu hr di undang ultah anak temenq,q liat baju'ny kok ada aplikasi flanel.q tny ma temenq,eh ternyat sodara'ny seorg crafter.q cb pesan flanel dr dy.karya pertama jepit nama,& ternyata laris manis.tp namany org usaha pasti ada halangan'ny.dibilang boongin anak kcil,ini,itu.sempet down n fakum bbrp saat. suatu ketika q upload kaos nama anakq di fb,eh ada yg tertarik trus pesen 2.hasilny q upload lg,&ternyt bnyk yg suka n tertarik.alhamdulilah jalan mulai terbuka.org" yg slama ini menghina pun langsung terdiam melihat usaha q makin lancar. semoga tuhan selalu membuka jalan rejeki agar usaha ini maju n berkah. aminn

by
Umbar Luph Vanya

Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP)


teman teman crafter, sebenarnya apa sih pencapaian kita sebagai crafter, setaun dua taun lalu saya sih cuman pengen dapet orderan, lancar, banyak, uangnya bisa beli apa yang ak pengenin, simpel.tapi, sejak ak kembali di kota ini, kota yg sebenarnya kaya tapi warganya kurang sejahtera, ak jadi berubah pikiran, apalagi kalo orderan numpuk butuh asisten hadehh bingung euy, ngajarin dulu, dll... saat ini ak dipercaya utk ngajarin ibu2 kelompok pengajian kecil dan sekarang ak jg sudah buka toko, mindset tokoku adalah toko yg jual barang2 handmade, sekalian kursus gratis, sekalian jual bahannya, yang maksud kedepannya pengen bikin LKP, kaya ummi anis n bu nandang itu lho... Nah kita pelajari dulu yuk tentang LKP

1.Apa yang dimaksud dengan LKP? Lembaga Kursus dan Pelatihan adalah salah satu bentuk satuan Pendidikan Nonformal yang diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

2.Apa dasar pendirian LKP? Dasar pendrian LKP adalah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, Pasal 62 tentang pendirian satuan pendidikan.
Ayat (1) Setiap satuan pendidikan formal dan nonformal yang didirikan wajib memperoleh izin Pemerintah atau Pemerintah Daerah
Ayat (2) Syarat-syarat untuk memperoleh izin meliputi isi pendidikan, sarana dan prasarana pendidikan, pembiayaan pendidikan, system evaluasi dan sertifikasi serta manajemen dan proses pendidikan.
Pasal 50 tentang Pengelolaan Pendidikan
Ayat (3) Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional.

3. Apa bedanya lembaga kursus dan pelatihan dengan program kursus dan pelatihan?
Lembaga kursus dan pelatihan merupakan satuan pendidikan pendidikan luar sekolah (Nonformal) yang diselenggarakan bagi warga masya- rakat yang memerlukan bekal untuk mengembangkan diri, bekerja mencari nafkah, dan atau melanjutkan ke tingkat atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sedangkan program kursus dan pelatihan adalah jenis keterampilan yang di selenggarakan satuan pendidikan PNF dalam hal ini lembaga kursus dan pelatihan, dalam setiap lembaga kursus dan pelatihan dapat terdiri dari satu atau lebih program kursus dan pelatihan.

4. Apa saja jenis keterampilan yang ada saat ini?
Dari 224 jenis keterampilan, sudah dibakukan menjadi 66 jenis keterampilan (lihat di http://www.infokursus.net/)

5. Apakah mendirikan LKP harus izin?

Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 62 Ayat (1) Setiap satuan pendidikan formal dan nonformal yang didirikan wajib memperoleh izin Pemerintah atau Pemerintah Daerah
Ayat (2) Syarat-syarat untuk memperoleh izin meliputi isi pendidikan, sarana dan prasarana pendidikan, pembiayaan pendidikan, sistem evaluasi dan sertifikasi serta manajemen dan proses pendidikan. Perizinan adalah suatu ketetapan Pemerintah atau Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas Pendidikan pada tingkat Kabupaten/Kota untuk memberikan legalitas atau pengakuan dan persetujuan resmi atas status penyelenggaraan kursus dan pelatihan dalam melaksanakan programnya. Pengaturan perizinan lembaga kursus dilakukan dengan tujuan:
  • Memudahkan Pemerintah atau Pemerintah Daerah dalam mengadakan pembinaan yang mencakup perencanaan, pelaksanaanpenilaian, dan evaluasi, serta pengawasan secara tertib, teratur dan terarah terhadap setiap jenis kursus dan pelatihan;
  • Memelihara dan meningkatkan mutu pendidikan yang serasi dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kebutuhan masyarakat, dan dunia usaha/industri;
  • Mengarahkan, menyerasikan, dan mengembangkan program pendidikan nonformal guna menunjang suksesnya program pembangunan;
  • Melindungi lembaga kursus dan pelatihan dari tindakan di luar peraturan perundang-undangan yang berlaku;
  • Melindungi warga masyarakat dari penyalahgunaan penyelenggararaan kursus dan pelatihan yang mengakibatkan kerugian;
  • Memberikan tanggung jawab hukum kepada lembaga kursus dan pelatihan.


6. Kemana dan bagaimana mendirikan LKP?
Masyarakat yang berminat untuk menyelenggarakan LKP dapat mengajukan proposal pendirian LKP secara lengkap dengan melampirkan bukti-bukti fisik sesuai persyaratan yang ditetapkan ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota setempat, u.p. Subdin yang menangani PLS. Persyaratan pendirian LKP adalah:
  1. Bukti diri berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP) penyelenggara yang masih berlaku;
  2. Bukti kepemilikan/sewa tempat;
  3. Data kapasitas daya tampung peserta didik;
  4. Rencana pembiayaan untuk penyelenggaraan kursus dan pelatihan paling sedikit untuk 1 (satu) tahun ke depan;
  5. Data sarana dan prasarana yang dimiliki termasuk status gedung yang digunakan untuk penyelenggaraan kursus dan pelatihan;
  6. Rencana program yang akan diselenggarakan paling sedikit 1 (satu) jenis;
  7. Akta notaris pendirian badan hukum;
  8. Struktur Organisasi/daftar nama;
  9. Riwayat hidup penyelenggara atau anggota pengurus badan hukum yang menyelenggarakan program kursus

7. Apa standar minimal (kelayakan) membuka LKP?
Standar minimal (kelayakan) membuka LKP adalah:

  1. Isi pendidikan, meliputi: struktur kurikulum yang berbasis kompetensi dan berorientassi pada keunggulan lokal, dan bahan ajar berupa buku/modul bahan ajar;
  2. Pendidik dan Tenaga Kependidikan, meliputi: jumlah, kualifikasi, dan kompetensi masing-masing pendidik dan tenaga kependidikan yang sesuai dengan bidangnya;
  3. Sarana dan prasarana, meliputi ketersediaan ruang kantor, ruang belajar teori, ruang praktek, sarana belajar mengajar, dan media pembelajaran, dengan ukuran, jenis, dan jumlah yang sesuai;
  4. Pembiayaan, meliputi biaya operasional dan biaya personal untuk mendukung terselenggaranya program pendidikan;
  5. Manajemen meliputi struktur organisasi lembaga dan deskripsi tugas yang jelas dan terarah guna memudahkan jalannya kegiatan dalam pencapaian tujuan; dan
  6. Proses pendidikan, meliputi: silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

8. Apakah setiap mendirikan lembaga kursus akan memperoleh Nilek?
Mulai tahun 2009, semua LKP baik yang sudah lama mapun baru berdiri, wajib memiliki Nilek Online. Oleh karena itu, LKP yang baru berdiri dan telah memperoleh ijin operasional dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota setempat harus mendaftarkan lembaganya ke Dinas Pendidikan Provinsi setempat untuk memperoleh NILEK. Untuk mengecek Nilek Online, dapat diakses di http://www.infokursus.net/

9. Siapakah yang berhak menerbitkan Nilek Online?

Nilek online diterbitkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi, berdasarkan laporan dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota tentang data LKP yang mendaftarkan untuk memperoleh Nilek Online.

10. Bagaimana cara memperoleh Nilek?

Untuk memperoleh Nilek Online, penyelenggara LKP dapat mendaftarkan lembaganya ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota setempat dengan mengisi formulir pendataan LKP yang telah disediakan. Selanjutnya Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota akan melaporkan data LKP tersebut ke Dinas Pendidikan Provinsi untuk diterbitkan Nilek Online-nya

11. Apa resiko LKP yang tidak memiliki Nilek Online?

LKP yang tidak memiliki Nilek Online dianggap LKP illegal, dan tidak berhak menjadi mitra Direktorat Pembinaan Kursus dan Kelembagaan untuk memperoleh bantuan dan dukungan apapun, atau menjadi penyelenggara program-program yang ada di Direktorat Pembinaan Kursus dan Kelembagaan.Bagi LKP yang belum memiliki NILEK dapat mendaftarkan setiap bulan Agustus s.d. Desember.

12. Apakah ada klasifikasi lembaga kursus?

LKP diklasifikasikan menjadi 4 kategori, yaitu: 
  1. LKP bertaraf Internasional, LKP berrtaraf internasional adalah LKP yang sudah memenuhi persyaratan sebagai LKP berklasifikasi nasional dan diperkaya dengan ciri-ciri yang mengacu pada keunggulan yang dipersyaratkan untuk memiliki daya saing ditingkat internasional. Dengan demikian, LKP berklasifikasi internasional adalah LKP yang sudah memenuhi dan melaksanakan persyaratan utuh LKP berklasifikasi nasional yang meliputi: standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarpras (sarana prasarana), standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian.
  2. LKP dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP) LKP kategori SNP adalah LKP yang sudah memenuhi persyaratan sebagai LKP berklasifikasi Pelayanan Minimal dan diperkaya dengan ciri-ciri yang mengacu pada keunggulan yang dipersyaratkan untuk memiliki daya saing ditingkat nasional. Dengan demikian, LKP berklasifikasi nasional merupakan LKP yang sudah memenuhi dan melaksanakan persyaratan utuh LKP berklasifikasi pelayanan minimal yang meliputi: standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarpras, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian.
  3. LKP dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM), LKP kategori SPM adalah LKP yang sudah memenuhi persyaratan minimal sebagai LKP, yaitu: 1) Isi pendidikan, meliputi: struktur kurikulum yang berbasis kompetensi dan berorientassi pada keunggulan lokal, dan bahan ajar berupa buku/modul bahan ajar; 2)Pendidik dan Tenaga Kependidikan, meliputi: jumlah, kualifikasi, dan kompetensi masing-masing pendidik dan tenaga kependidikan yang sesuai dengan bidangnya; 3) Sarana dan prasarana, meliputi ketersediaan ruang kantor, ruang belajar teori, ruang praktek, sarana belajar mengajar, dan media pembelajaran, dengan ukuran, jenis, dan jumlah yang sesuai; 4) Pembiayaan, meliputi biaya operasional dan biaya personal untuk mendukung terselenggaranya program pendidikan; 5)Manajemen meliputi struktur organisasi lembaga dan deskripsi tugas yang jelas dan terarah guna memudahkan jalannya kegiatan dalam pencapaian tujuan; dan 6) Proses pendidikan, meliputi: silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
  4. LKP Rintisan.LKP kategori rintisan adalah LKP yang sudah memenuhi persyaratan minimal sebagai lembaga untuk menyelenggarakan kegiatan pembelajaran, baru merintis penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan pada tingkat pemula, atau LKP yang belum memenuhi klasifikasi pelayanan minimal. Beberapa ciri esensial dari LKP Rintisan adalah: (1) memiliki komitmen dalam memberikan kontribusi positif dalam penyediaan layanan pendidikan nonformal bagi masyarakat yang membutuhkan; (2) melaksanakan penyelenggaraan proses pembelajaran yang sederhana, aktif dan menyenangkan; (3) memaksimalkan penggunaan sarana-prasarana yang tersedia; (4) menggunakan pembiayaan yang terbatas dan efisien; dan (5) memiliki pendidik/instruktur dengan kualifikasi SLTA.
13. Apa bentuk dukungan pemerintah dalam peningkatan mutu LKP?
Pemerintah memberikan dukungan dalam upaya peningkatan mutu LKP berupa:
a. Bantuan operasional lembaga;
b. Bantuan penyelenggaraan program PKH;
c. Peningkatan kapasitas manajerial lembaga;
d. Peningkatan kapasitas pendidik dan tenaga kependidikan;
e. Fasilitasi dalam penilaian kinerja lembaga;
f. Fasilitasi Akreditasi LKP oleh BAN-PNF; dan
g. Pembinaan melalui kegiatan monitoring dan evaluasi.


Semoga artikel ini bermanfaat, n sebenarnya saya sendiri masih kurang paham, mungkin kalo saya sudah melewati tahap2nya akan saya ceritakan keteman2 maksud dan penjelasan lebih detil dr artikel diatas. sekian, dan terimakasih


by 
Ismi Hardini

FLANEL


Sebenarnya kata ini bukan kata yang terlalu baru untukku. Sewaktu masih kuliah dulu, aku pernah melihat teman2 membuat gantungan
yang berbentuk baju atau lingkaran yang kemudian diberi huruf2, diberi tali dan dilengkapi dengan tempelan kaca di kiri dan kanannya. Saat itu aku melihatnya seperti sesuatu yang biasa aja. Ooo..gantungan nama..itu aku gumamkan setiap kali temanku membuat gantungan nama dari flanel.

Setelah hampir 14 tahun berlalu, aku sudah berkeluarga dan memiliki 4 orang anak, aku mencoba mencari2 gambar2 unik di internet. Memang dasarnya suka yang unik2...dan ketemulah aku dengan blog craft milik mba novinouf. Diintip-intip..dilihat lihat...ternyata..wow.... Surprise.... ternyata craft dari bahan flanel itu...unik dan lucu. Mulai deh aku jatuh cinta. Setiap hari aku pasti intipin blog craft yang berbahan flanel. Semakin hari, semakin diintip...hatiku semakin terpesona. Semua bayangan tentang flanel menari-nari dibenakku seperti hentakan musik R n B. Sehari tanpa mengintip hasil craft dari flanel rasanya seperti galau..ada sesuatu yang kurang. Kalau kataku saat itu, aku seperti jatuh cinta.. Hati selalu bergelora dengan semangat setiap melihat hasil craft yang lucu2 itu.

Karena tak tahan dengan sensasinya, akhirnya aku paksakan untuk menyempatkan diri "terbang" ke kota bandung dan memborong kain flanel, dakron, lem uhu, ganci dan peniti bros (saat itu cuma itu bahan yg aku tahu). Mulai deh pengembaraanku bersama kain2 flanel. Produk yang pertama aku buat adalah ganci angry bird, ini juga masukan dari anakku yang saat itu duduk di

kelas 1 SD. Taaraaa... Setelah berjuang untuk membuat pola, menggunting flanel, menempel, menjait dll...akhirnya jadilah 5 ganci angry bird yang langsung dipasarkan oleh anakku sendiri dan alhamdulillaah laris manis.Senang dan gembira yang aku rasakan, begitu juga anakku karena dia juga mendapat bonus dari setiap ganci yang berhasil dia jual. Trus aku coba tawarkan ke teman2 kantor suamiku..dan ternyata laris manis juga. Bahkan ada yang pesen bentuk lain sesuai keinginan mereka. Sik asik..sik asik... Akhirnya makin asik deh sama yang namanya flanel. Gabung dengan group para crafter bikin aku tambah bersemangat untuk terus mengasah
kreatifitasku, maklum yang diliat tiap hari adalah karya2 para senior yang ciamik banget. Yang semangat ternyata bukan cuma aku, tapi semua anak2ku juga ikut bersemangat. Tiap kali aku membongkar "peralatan perang"ku, mereka pasti langsung nimbrung dan asyik memilih-milih. Ada yang mengumpulkan perca flanel dan kemudian dijait-jait jadi bentuk2 unik hasil kreasi mereka sendiri. Ada yang asyik meronce manik2 menjadi kalung. Ada juga yang sibuk ngitungin kancing2 yang aku punya. Pokoknya kalau aku sudah menggelar bahan2 kreasi flanelku...wuah..jadinya semua asyik nimbrung dan mulai berimajinasi dan berkreasi sendiri.

Walaupun aku bukan termasuk crafter yang produktif, walaupun hasil karyaku masih bisa dihitung dengan jari. Tapi aku merasa senang, aku merasa menemukan dunia yang lain dimana aku bisa berimajinasi, berkreasi, menumpahkan semua rasa hati melalui lembaran kain flanel. Dan aku gembira. Selain aku...anak2ku juga bisa mulai belajar untuk berkreasi, menumpahkan idenya dalam sebuah karya yang walaupun tampak sederhana tapi begitu berarti untuk perkembangan jiwanya. Setidaknya itu menurutku.

bt: Titik Indrawati



craft story by Rizqa Fhiqa Nirmala


aq mulai belajar kreasi dri bhan flanel sekitar setahun yg lalu...Awalnya aq belajar sma temen aq yg bernama Reni,aq di ajarkan menjahit,memotong pola dan menempel kreasi biar lbih hidup dan lbih kreasi lg...
Aq belajar menjahit g lama,butuh waktu skitar 8 bulan aja mba sofi(ups 8 bln itu lama ya mba,,..hehehe)..
Dri situ aq bisa menghasilkan suatu kreasi mba di antara'a dompet,pouch hp,bros,jepit rambut,kotak tissue dll...
Dan sampe skrng aq pun msih trs belajar mba,aq pengen bisa bikin topping sendiri hasil kreasi aq mba...

KARYA YANG BERBICARA

Menggeluti bidang craft merupakan sebuah pilihan karir yang tidak mudah untuk dijelaskan kepada orang lain. Sering kali craft ‘dianggap’ sebagai pekerjaan yang sepele, sekedar menyalurkan hobi, sampingan pengisi waktu luang, maupun hanya tambah-tambah uang saku atau belanja saja. Tak sedikit juga yang mendiskreditkan bahwa bidang ini adalah suatu hal yang tidak pasti alias tidak menjanjikan. Benarkah demikian? Tentu kita perlu melihat lebih jauh apakah bidang ini sebuah pilihan yang tepat untuk dijalani, mencoba memandangnya dari segala sisi.
Craft merupakan hasil karya seni kerajinan tangan yang dihasilkan seseorang melalui proses kreatif. Jelas, ini membutuhkan keseriusan dalam pengerjaannya. Dari produk yang dihasilkan, kita dapat melihat banyak komponen yang melatarbelakangi terciptanya sebuah produk. Mulai dari bahan (materials), alat yang digunakan, jenis barang, hingga nilai yang terkandung padanya. Apakah itu nilai seni, messages atau pesan yang ingin disampaikan, nilai fungsi/kegunaan hingga nilai jual. Karya yang paling sederhanapun tidak akan terlepas dari unsur-unsur tersebut. Jadi,craft sejatinya memang bukan hal yang remeh-temeh seperti anggapan
kebanyakan orang. Ada nilai lebih ketika sebuah benda seni tersebut tercipta. Oh ya, unsur paling penting sebenarnya adalah pengrajin (crafter) itu sendiri!

Ya, crafter adalah sebutan untuk kita para pengeajin yang memiliki ide, meng-create, dan mengerjakan produk-produk craft. Ia mengetahui seluk-beluk apa yang ia kerjakan. Sehingga, ia paham betul tiap detail yang ia butuhkan agar dapat mewujudkan karya yang maksimal. Crafter yang baik adalah ia yang mau belajar terus menerus, berusaha meningkatkan karyanya dari waktu ke waktu, selalu berinovasi dan tidak cepat puas dengan hasil karyanya hari ini. Motivasi yang tinggi juga memiliki peranan yang besar bagi kelangsungan karir sebagai seorang crafter. Memiliki keahlian tapi miskin motivasi, bisa dipastikan ia akan lebih cepat mati ide dalam berkarya. Setiap karya yang dihasilkan merupakan implementasi dari gagasan yang dituangkan. Apa yang ada dalam pikiran, dapat terbaca dari karya yang dihasilkan. Dari sini pula kita dapat mengidentifikasikan
ciri khas, karakter, bahkan melihat sisi kepribadian masing-masing crafter.

Sedikit ingin berbagi cerita tentang motivasi saya dalam membuat salah satu produk andalan saya, yaitu buku agenda bersampul kain flanel. Bukan sekedar buku agenda/diary biasa, keunikan dari produk saya ini adalah sampul agenda bagian depan saya hias dengan sentuhan kata-kata motivasi yang unik dan menggugah. Misalnya: GALAU- God Always Listening Always Understanding, Muhasabah, What’s on Your Mind?, Dare to be Different, For a Better Life, Life is Beautiful, Do It Your Self, Berkaca pada Hati, I’m Muslim and I’m Proud, dst. Ada juga kata-kata yang saya gunakan simpel tapi membuat orang yang melihat sebagai produk yang ‘gue banget’, seperti kata-kata: Special for you, Agenda Muslimah, My written, Catatan Hati, Catatan Perjalanan, My Diary,My Dreams, dst.

Mengapa saya tidak menghiasnya dengan aneka kreasi yang lucu-lucu seperti yang selama ini identik dari kain flanel? Itulah diferensiasi! Menampilkan sesuatu yang benar-benar orisinil, berbeda dan konsisten dalam membuatnya adalah kunci memperkuat branding product yang lain dari yang lain. Sehingga kita ahli, spesialis bagi produk kita sendiri. Agar kita tidak capek menjadi pengikut selera pasar. Sebagai alternatif, saya memberikan pilihan untuk desain tulisan bisa sesuai dengan pesanan pelanggan. Termasuk desain nama pribadi, hal ini saya lakukan dengan niat pada yang saya yakini. Yaitu, merealisasikan impian seseorang membuat saya yakin ini akan menjadi salah satu jalan bagi saya agar Allah mewujudkan pula impian saya. Entah bagaimana caranya.

Intinya, dalam berkarya kita harus memiliki sebuah motivasi mengapa kita mau membuatnya. Tidak hanya sekedar ikut-ikut tanpa tujuan yang jelas. Karena, seorang crafter yang profesional tentu memiliki tanggung jawab yang besar terhadap karyanya. Bebas namun memiliki batas, terbatas tapi optimal dalam berkarya. Saya sendiri dengan segala kerendahan hati ingin menyampaikan. Meski saya mengikrarkan diri menjadi seorang crafter yang membisniskan produknya, namun saya tetap memiliki sebuah idealisme yang saya pegang. Produk saya harus bermanfaat, bukan yang mengandung madharat. Menjadi ladang dakwah dan beribadah, syukur-syukur bernilai pahala. Murah, tapi tidak murahan. Tetap memperhatikan kualitas, bukan keuntungan pribadi saja.
Ada pesan yang ingin saya sampaikan, agar menjadikan karya yang dapat berbicara pada masyarakat yang mengapresiasinya.

Salam kreatif dan semangat untuk terus berkarya!

Bagaimana dengan anda? :)

MENJADI CRAFTER KARENA TERPAKSA


Hamil anak ke 2 memutuskan untuk benar2 berhenti kerja dan menjadi fulltime housewife. Daripada bengong bongkar lg barang lama ada kain flanel + buku kerajinan flanel karya emy rismawati yg sdh 10thn lalu dibeli tapi tak tersentuh. Waktu itu beli flanel seharga 9rb. Pindah ke Malang ketemu dg rekan2 komunitas flanel malang raya,akhirnya ketemu juga jalan. Dan mulailah serius..tadinya saya beranggapan hoby ini bisa membiayai "dirinya" sendiri tapi sekarang mulai menambah penghasilan untuk keluarga kecilku. Sekarang saya makin semangat bermain flanel motif dan kerajinan flanel. Semangat!

by
Raya Craft

Craftypreneur: Made it, Sale it!

Kali ini saya ingin share tentang “Craftypreneur”. Secara terminologi, istilah craftypreneur berasal dari kata craft yang bermakna kerajinan tangan dan entrepreneur (wirausaha). Jadi, craftypreneur adalah wirausahawan yang menekuni bisnis dari hasil kerajinan tangannya. Dengan menjadi seorang wirausahawan, produk-produk kreatif dari kerajinan tangan kita (utamanya produk flanel yang kita geluti) tidak hanya selesai menjadi hobi atau gift bagi orang-orang tercinta, namun juga bisa disulap menjadi rupiah.

Banyak crafter yang mengira, setelah membuat produk yang sangat bagus sekalipun, orang akan langsung berbondong-bondong membeli. Ya, mungkin saja itu terjadi jika anda sudah memiliki brand yang kuat dan produk anda dicari bahkan ditunggu-tunggu kehadirannya. Namun, jika anda adalah seorang pemula, bagaimana agar produk flanel anda yang “luar-biasa-bagusnya” tersebut sampai ke tangan masyarakat? Bagaimana membuat produk flanel anda dikenal? Bagaimana pula supaya karya anda dibeli orang?

Buka toko, donk! Hmm, ide yang lumayan bagus. Membuka sebuah gallery, showroom maupun woorkshop adalah pilihan yang baik untuk mengenalkan produk. Tapi, sebagai pemula, seberapa kuat modal kita untuk membangun sebuah toko? Toko dapat dibagi menjadi dua, toko offline (fisik) dan toko online. Keduanya membutuhkan modal awal untuk merintis dan menjalankannya.

Pertama, toko offline. Sebuah toko offline membutuhkan lokasi yang strategis. Ia bisa berupa sebuah bangunan toko yang dilengkapi dengan etalase, rak pajangan, dekorasi, pramuniaga, dan tentu saja barang dagangan. Semuanya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Cara ini bisa ditempuh jika modal dana kita kuat. Bulan-bulan pertama akan menjadi masa yang sulit, karena kita harus gencar promosi, serta mengejar target agar BEP (Break Event Point) alias balik modal.

Kedua, toko online. Toko online atau yang akrab disebut OS (Online Shop) adalah solusi untuk kita para pemula, yang memiliki keterbatasan dana untuk membuat toko fisik. Pada dasarnya kita harus memiliki sebuah wujud toko online. Ia bisa berupa website berbayar maupun gratis. Bisa pula berupa akun Facebook dan Fanpage Facebook (lebih disarakan menggunakan fanpage, karena menggunakan akun facebook untuk tujuan komersil termasuk penyalahgunaan akun facebook). Dengan memiliki toko online, kita bisa menjual hasil karya kita dalam bentuk katalog online. Alat untuk menjaring pelanggan adalah foto produk yang bagus. Perlengkapan lain yang harus kita siapkan adalah akses internet (handphone/laptop+modem), kamera, contact person,rekening bank, dan tentu saja barang dagangan kita! Yang tak kalah penting dalam berbisnis online shop adalah kewaspadaan dan membangun
kepercayaan pelanggan.

Ada yang mengatakan, memproduksi barang lebih mudah daripada memasarkan. Logikanya, setiap orang mampu membuat barang, baik yang diproduksi sendiri maupun mempekerjakan karyawan. Kita tinggal menyediakan ide kreasi, bahan baku, tempat, waktu, dan tenaga, kita bisa memproduksi sebanyak-banyaknya. Lain dengan memasarkan. Pemasaran membutuhkan faktor-faktor lain seperti: mental, kecakapan dalam mejual, menjaring pelanggan, berinteraksi denan calon pembeli, hingga mendapatkan “deal” penjualan. Dana promosi juga memerlukan anggaran khusus seperti untuk memasang iklan, membuat banner/pamflet untuk toko offline. Biaya internet, sewa domain+hosting, dan beli kamera yang bagus guna pemotretan produk untuk toko online.

Karena itulah, tantangan kita sebagai felt crafter yang juga pebisnis adalah bagaimana kita bisa “menjual” karya kita. Dengan memiliki keterampilan dalam memasarkan, kita bisa disebut sebagai craftypreneur. Perpaduan antara seorang crafter yang menghasilkan produk bagus, dengan jiwa entrepreneurship yang memiliki inisiatif untuk mandiri dan kaya. Crafter yang bisa menjual hasil karyanya kepada masyarakat dan atau memimpin sebuah tim pemasaran. Tanpa ada usaha untuk mengenalkan produk kita kepada masyarakat, produk felt craft kita hanya akan berhenti sebagai karya seni yang diam. Tidak ada yang tahu kita bisa membuat produk yang brilian.Begitupun dalam menjual, sejatinya kita butuh produk yang bernilai jual dan diburu orang. Bukan produk sembarangan. Craft dan entrepreneur, keduanya bersinergi menjadi sesuatu yang luar biasa dan mendorong kita berkembang menjadi seorang crafter yang sukses.

Sudah siap menjadi seorang craftypreneur?
Go Crafter! Crafter luar biasa! Entrepreneur, pasti bisa!

Salam kreatif,